Hari Sabtu Pantang Meninggal Bagi Tionghoa

Hari Sabtu Pantang Meninggal Bagi Tionghoa

Hari Sabtu Pantang Meninggal Bagi Tionghoa, Pamali Meninggal Hari Sabtu, Mitos Meninggal Hari Sabtu Bagi Warga Tionghoa, Bukan Hanya Tionghoa Aja Yang Pamali Orang Jawa Juga Pamali Kalau Meninggal Hari Sabtu. Kenapa Hari Sabtu Di Bilang Paling Apes Untuk Mati Meninggalkan Dunia Ini.

Hari Sabtu Di Mulai Dari Magrib Hari Jumat Sampai Sabtu Sebelum Magrib Jika Dalam Kepercayaan Jawa, Soalnya Jawa Menganut Peredaran Bulan.

Orang yang meninggal di hari Sabtu konon tidak mau pergi sendirian. Jadi, orang itu akan mengajak teman. Masyarakat Jawa meyakini bahwa akan ada kematian beruntun di daerah mereka jika ada orang meninggal di hari Sabtu. Di beberapa tempat, mitos ini terjadi bila seseorang meninggal di hari Selasa. Namun, yang paling terkenal adalah di hari Sabtu.

Hari Sabtu Pantang Meninggal Bagi Tionghoa

Jika ada hari yang sial, bagi warga Tionghoa tidak lain adalah hari Sabtu. Keyakinan itu masih bertahan di lingkungan tradisional warga Tionghoa. Namun, hari yang dianggap nahas itu hanya berlaku untuk persoalan kematian. Untuk hajatan lain, tidak ada hari yang sial bagi mereka.”kalau menikah atau syukuran yang lain nggak masalah,” terang Ws. Adjie Chandra.

Hari Sabtu divonis sebagai hari yang sial untuk kematian warga Tionghoa, karena mereka meyakini, kesialan pada hari Sabtu bakal menjalar ke kerabat terdekat lainnya.”Tidak semua menganut ini, namun bagi mereka yang warga Tionghoa tradisional masih menganut kepercayaan ini,” ujarnya.

Namun, bagi warga Tionghoa di Solo yang setengah percaya setengah tidak dengan mitos itu, sudah menyiapkan sesuatu untuk menangkal hal-hal yang tidak dinginkan, jika terpaksa merawat jenazah pada hari Sabtu.

Ketika menjalankan proses penguburan dan kremasi, para keluarga yang ditimpa musibah sering menyiapkan lima ikan lele dan sepasang merpati. ”Ketika jenazah sudah dimasukkan ke dalam liang lahat, maka lele yang masih hidup tersebut dimasukkan ke dalam liang lahat. Sedangkan untuk sepasang merpati diterbangkan di atas makam,” tuturnya. Sedangkan untuk jenazah yang dikremasi, maka, ikan lele tersebut ikut dibakar, dan sepasang merpati diterbangkan. Makna dari prosesi tersebut, kata Chandra, supaya ketika arwah dari jenazah tersebut dibawa ke udara maka ada temannya yaitu burung merpati. ”Lalu ketika arwah jenazah di laut atau di darat maka lele yang akan menemaninya,” kata dia.

Masyarakat Pulau Jawa (Barat, Tengah dan Timur) masih sangat lekat dengan hal yang berhubungan dengan kata Mitos. Mitos merupakan sebuah kepercayaan mengenai kehidupan yang diyakini oleh masyarakat secara turun-menurun. Kepercayaan mitos ini menurut sejarahnya selalu disampaikan oleh para Orangtua kepada anak dan cucu mereka. Mitos itu bisa berupa sebuah larangan / pantangan, atau bahkan hal-hal yang bisa terjadi akibat peristiwa / kejadian lain. Pengaruh mitos bagi masyarakat awam, memang dianggap sangat tidak masuk akal.

Meskipun dianggap mustahil dan sulit diterima akal sehat maupun dikaji secara ilmiah, namun masyarakat Pulau Jawa banyak yang meyakininya, khususnya masyarakat yang ada di daerah pedesaan. Salah satu yang berkembang dikalangan masyarakat adalah mitos tentang kematian.

Kebenaran itu datangnya dari Allah SWT, dan kesalahan itu gudangnya ada pada kita manusia. Akan tetapi apa yang dianggap orang-orang konon katanya itu, memang terjadi didepan mata saya sendiri dan bukan hanya saya tapi warga lainnya juga turut menyaksikannya. Memang benar adanya, bila ada orang yang meninggal pada hari sabtu, pasti membawa teman / tidak pergi sendirian.

Terlepas dari benar atau tidaknya mitos-mitos tersebut, kembali pada keyakinan diri kita sendiri. Dan kita juga bisa menghargainya sebagai tradisi budaya bangsa. Indonesia terkenal dengan kebudayaan yang banyak corak ragamnya. Jika tidak dilestarikan, tentu lama-lama akan sirna dan punah. Tanda kutip, bukan untuk melestarikan kepercayaannya, melainkan sebagai pembelajaran / pengetahuan bahwa Mitos-Mitos itu sejatinya memang ada sejak zaman nenek moyang kita dulu, bahkan sampai sekarang masih banyak yang meyakininya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *