Kidung Kata Dalam Perjalanan Menuju Korea Utara

Kidung Kata Dalam Perjalanan Menuju Korea Utara

Kidung Kata Dalam Perjalanan Menuju Korea Utara – Senja Matahari Enggan Turun Kepelupuk, Udara Dingin Masih Menyelimuti Kota Dengan Semilir Angin Membuat Hati Enggan Untuk Berpisah dari Dalam Hangatnya Heater Mobil. Sore Itu Kami Di Ajak Mengunjungi Suatu Sekolah Menengah di Pusat Kota Pyong Yang, Korea Utara Untuk Melihat Kegiatan Extra Kulikuler Yang Di Berikan Oleh Sekolah Paling Bergengsi Di Kota Yang Indah Ini. Kebebasan Ekpresi dan Menentukan Pilihan Memang Sangat Terbatas, Komputer Hanya di Miliki Oleh Kalangan Elite, Tapi Siswa Bisa Belajar Komputer Sebatas Microsoft Office, Adobe, Sistem Operasi. Dan Tidak Boleh Bermain Games.

Kidung Kata Dalam Perjalanan Menuju Korea Utara

Yah Mungkin Negara Ini Memang Memiliki Budaya Yang Unik Dan Kita Harus Menghargainya, “Jangan Bilang Negara Kamu Adalah Negara Otoriter, Kebebasan Di Bungkam, Saya Sih Gak Mau Punya Pemimpin Seperti Itu” Kutip Salah Satu Politisi Yang Sedang Trend Di Bicarakan Saat Ini.

Saya Teringat Dengan Omongan Guides di Korea Utara, Meski Kami Negara Kami Membungkan Semua Kebebasan Berekpresi, Kami Tidak Pernah Mencela atau Berbicara Buruk Terhadap Pemimpin Kami, Wah Cukup Masuk Dalam Hati Kata-Kata Itu, Seperti Mendengar Ucapan Hadist Yang Berbunyi Serupa “Saya pernah bersama Abu Bakrah di bawah mimbar Ibnu Amir yang sedang berkhutbah sambil mengenakan pakaian tipis. Abu Bilal berkata: Lihatlah pemimipin kita, dia mengenakan pakaian orang-orang fasiq. Abu Bakrah menegurnya seraya berkata: Diamlah, saya mendengar Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang menghina pemimpin di muka bumi, niscaya Allah akan menghinakannya“” Al Tarmizi.

Wah Orang Korea Utara Lebih Memiliki Konsep Islami Daripada Negeriku Yang Tercinta Ini, Yang Setiap Hari Di Dominasi Dengan Berita Kebencian Terhadap Pemimpin atau Aparat Hukum Di Indonesia. Padahal mayoritas Orang Korea Utara Adalah Tidak Memiliki Agama, Lebih Memiliki Pandangan Tentang Konsep Juche, Juche Sendiri Adalah ideologi resmi yang dianut di Korea Utara. Juche mengandung prinsip bahwa “manusia menguasai segala sesuatu dan memutuskan segala sesuatu”. Juche mengandung pengertian “self-reliance” atau “percaya pada kemapuan sendiri”. Ideologi ini pertama kali dicetuskan oleh Kim Il-sung sekitar awal tahun 1955. Istilah Juche tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya.

Kembali Ke Sekolah Yang Saya Kunjungi Tadi, Wow Sekolah Yang Di Katakan Modern Ini di Kota Pyong Yang, Mohon Maaf Saya Membandingkan dengan SMA Saya Di Kota Terburuk di Jawa Tengah Saja Masih Lebih Bagus SMA Zaman Saya, Ini Adalah Kenyataan. Tapi Yang Membuat Saya Salut Adalah Tentang Mereka Mendidik Siswa-Siswi Agar Menjadi Pribadi Yang Memiliki Kesetiaan Yang Tinggi Terhadap Negara dan Bangsa. Mereka Jarang Sekali Bermain, Semua Memiliki Kegiatan Positif. Nah Kebetulan Disana Juga Sedang Ada Renovasi Besar-Besaran Jadi Siswa Gotong Royong Membangun Sekolah, Saya Lihat Tidak Ada Tukang Yang Bekerja, Hanya Ada Pemanfaatan Terhadap Eksploitasi Terhadap Siswi-Siswi Untuk Bekerja Secara Gratis Tanpa di Upah. Wah Pikiran Saya Udah Negatif Nih, Kemudian Saya Putar Menjadi Pikiran Positf Dan Bertanya Kepada Siswa Korea Utara, Mengapa Kamu Tidak Pulang ke Rumah Malah Di Suruh Membantu Membangun Sekolah? Dia Jawab Jika Kita Bisa Berbuat dan Bermanfaat Bagi Negara dan Orang Lain Mengapa Kita Tidak Melakukannya? Kembali Di Hujam Kata-Kata Yang Sakit Menurut Saya Sebagai Orang Yang Sudah Lebih Tua Secara Umur, Akan Tetapi Memiliki Pemikiran Yang Belum Dewasa.

Kemudian Lanjut Lagi Ke Guides Saya Tadi, Coba Kita Ambil Sikap Positif Saja Tentang Apa Saja Yang Di Lakukan Oleh Sang Pemimpin. Meski Negeri Korea Utara Dilanda Kelaparan Yang Sangat Parah, Tapi Sang Presiden Tetap Peduli dan Rela Turun Tangan Membantu Rakyat Korea Utara. Wah Media Memutar Balikkan Fakta Yang Ada 180 Derajat, Yah Memang Benar Tanah disana Tidak Subur, Saya Akhir Maret Kesana Saja, Daun-Daun Masih Belum Bermekaran, Desa-Desa Tumbuhan dan Padi Belum Di Tanam, Sungguh Miris Melihatnya. Berbanding Terbalik Dengan Indonesia, Tanah Yang Subur, Sepanjang Tahun Daun Tetap Hijau, Masih Ada Saja Kelaparan dan Busung Lapar Yang Terjadi. Jadi Ingin Membuat Puisi Yang Berasal Dari Anak Presiden Soekarno

Dulu, aku tak tahu pandangan negeri korea utara.
Yang kutahu, hidupnya terkekang, dan tak punya arah tujuan.

Dulu, aku tak tahu pandangan negeri korea utara.
Yang kutahu, penindasaan terhadap warga negaranya.
Sehingga, media sering mengatakan sang pemimpin yang kejam.

Dulu, aku tak tahu tentang negeriku.
Yang kutahu, aku sering mencaci maki sang pemimpin.
Maka, aku bebas ucapkan kata kasar, ghibah, dan hujatan.

Dulu, aku tak tahu tentang negeriku
Kubiarkan pikiran bebas tanpa adanya batas
Jika aku ingin berpendapat, kuucap kata bebas dipadupadankan hinaaan untuk menarik perhatian.

Dulu, aku tak tahu tentang ucapanku.
Dengan bangganya, sehingga aku menjadi pusat perhatian
Ketika aku salah, aku dengan bebas berucap maaf teramat dalam sampai keluar air mataku.

Sumber : Hikmah Dalam Perjalanan Di Korea Utara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *