Alasan Mengapa Kita Harus Membenci Syiah?

Alasan Mengapa Kita Harus Membenci Syiah?

Mengapa Kita Harus Membenci Syiah? Alasan Kita Membenci Syiah? Banyak Sekali Artikel Sekarang Yang Mengharuskan Kita Membenci Syiah Sebagai Salah Satu Aliran Sesat Dan Kaum Terbodoh atau Kaum Penghianat Umat Islam.

Banyak Sekali Artikel-Artikel Mengenai Penggiringan Opini Publik Untuk Membenci Aliran Ini, Mengapa Demikian? Apakah Ada Pihak Luar Yang Ingin Memecah Belah Umat Islam Dari Dalam Sendiri.

Beberapa bulan lalu saya membuka sebuah situs Syiah Indonesia. Semula saya pikir situs tersebut berupa informasi seputar madzhab Syiah yang ada di Indonesia, tidak tahunya merupakan situs yang menjelek-jelekan mazhab ini. Bahkan dalam tag-nya berbunyi: “Kami hanya segelintir orang yang bertekad untuk menjelaskan kepada umat islam akan hakekat dan bahaya aliran Syi’ah/Rafidhah”.

Alasan Mengapa Kita Harus Membenci Syiah?

Ketika Saya Masih Kuliah di Universitas Islam Ternama di Jakarta, Saya Memiliki Teman-Teman Syiah Yang Sangat Taat Dan Membela Imamnya, Tapi Mereka Tidak Pernah Memilih-milih Masjid Untuk Sholat. Kita Sholat Berjamaah dengan Rukun dan Tertib. Meski Berbeda Sedikit Dalam Hal Sholat.

Sebagai muslim yang terlahir dari keluarga Sunni dengan madzhab Syafi’i, remaja dengan madzhab Hambali, dan dewasa dengan madzhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hambali, dan Ja’fari alias hanya bermadzhab Islam. Sungguh sangat kecewa dengan adanya penghinaan terhadap salah satu madzhab Islam tersebut, terlebih penghinaan itu dilakukan oleh umat Islam sendiri. Yang lebih mengecewakan lagi adalah pernyataan dalam salah satu artikel situs tersebut yang mengatakan kafir terhadap aliran madzhab Syiah. Naudzubillahi min dzalik.

Saya Juga Di Ajarkan Oleh Orang Tua Saya, Yang Notabene Adalah Dosen Tafsir Hadist di Salah Satu Universitas Islam Di Cirebob, Bahwa Sanya. Kita Tidak Boleh Mengkafir Orang Selama Orang Itu Mengucapkan Syahadat dan Menjalankan Rukun Islam dan Rukun Iman Dalam Islam. Ini Adalah Pondasi Penting Bagi Saya Sendiri Dalam Menjugde Seseorang Kafir.

Orang yang mudah mengkafirkan kaum muslimin adalah orang yang sedikit wara’ dan agamanya, dangkal ilmu dan bashirahnya, karena mengkafirkan mempunyai konskwensi yang agung dan mengharuskan hukuman dan ancaman yang berat terhadap orang yang dikafirkan diantaranya adalah wajibnya mendapatkan laknat dan kemurkaan, dibatalkan seluruh amalnya, tidak diampuni dosanya, mendapatkan kehinaan dan kebinasaan, kekal dalam api Neraka selama-lamanya, disamping ia harus mencerai istri atau suaminya, berhak dibunuh, tidak mendapat warisan, haram dishalatkan jenazahnya, tidak boleh dikuburkan di pemakaman kaum muslimin dan hukum-hukum lainnya sebagaimana tertera dalam kitab-kitab fiqih.

Kadang saya tidak habis pikir, mengapa masih banyak orang yang menghina Syiah (dan ini tidak berhenti sejak jaman agresor Muawiyah)? Padahal jika kita membaca sejarah, Imam Hanafi ra dan Imam Malik ra (imam madzhab Sunni) merupakan murid-murid Imam Ja’far as (cicit Rasulullah saww), yang notabene imamnya kaum Syiah. Sedangkan Imam Syafi’i ra merupakan murid Imam Malik ra dan Imam Hambal ra merupakan murid Imam Syafi’i ra. Jadi Imam Syafi’i ra dan Imam Hambal ra bisa dikatakan sebagai murid tidak langsung dari Imam Ja’far as. Lantas, jika syi’ah (madzhab Ja’fari) itu dikatakan sesat maka sudah barang tentu Sunni juga menjadi sesat karena imam-imam madzhabnya pernah berguru, baik langsung maupun tidak, kepada Imam Ja’far as. Sungguh suatu logika yang tidak masuk akal!!!

Saya Sendiri Bukanlah Seorang Yang Membenarkan Mahzab Yang Saya Anut, Karena Kebenaran atau Islam Yang Sesungguhnya adalah Kembali Kepada Sunnah dan Alquran Saja, Dan Saling Menghargai Antar Umat Beragama.

Apa karena mereka rafidhah (mengagungkan keluarga Nabi saww melebihi kepada para shahabat Nabi lainnya) sehingga mereka layak disebut sesat? Saya jadi teringat ucapan Imam Syafi’i ra ketika menyikapi orang-orang yang suka menjelek-jelekkan kaum rafidhi (pada jaman dahulu orang syi’ah disebut rafidhi). Beliau mengatakan: “Sayalah orang yang paling rafidhi di antara kalian, karena sholat saya tidak akan syah tanpa mengagungkan keluarga Nabi saww!” Ya, sebenarnya kita semua (muslim) adalah kaum rafidhi, karena shalat kita tidak akan syah tanpa menyebutkan “wa ‘ala aali Muhammad” (dan keluarga Muhammad) setelah “Allahumma shali ‘ala Muhammad” dan “Wa barik ‘ala Muhammad” dalam bacaan tahiyyat shalat kita, sebagai bentuk pengagungan kepada keluarga Nabi saww. Bahkan Nabi saww mengatakan bahwa kita termasuk orang yang bakhil/kikir jika setiap diucapkan nama beliau kita tidak bershalawat kepada beliau dan keluarganya (mengucapkan shalalallahu ‘alaihi wa aalihi wasalam).

Dimanakah letak kesalahan mereka sehingga layak untuk dibenci dan dinyatakan sesat? Jika karena perbedaan furu’iah (cabang), bukankah setiap madzhab dalam Sunni-pun, baik Hanafi, Maliki, Syafi’i, maupun Hambali, memiliki perbedaan dalam hal furu’iah ini?

Seharusnya yang kita cari adalah kalimatun sawa, kesamaan-kesamaan yang terdapat dalam ajaran Sunni dan Syiah, bukan sebaliknya. Kalaulah ada anggapan bahwa Syiah telah menyimpang, itu bukanlah Syiah yang sebenarnya. Karena sebagaimana Sunni, dalam Syiah pun terdapat beberapa kelompok, seperti Asy’ariyah, Fathimiyah, Zaidiyah, dll. Jika di antara puluhan kelompok itu ada yang menyimpang, bukankah di Sunni juga ada yang menyimpang seperti kelompok Isa Bugis, misalnya (konon sekarang kelompok ini sudah lebih baik, tidak meninggalkan shalat dan puasa)? Tapi hal itu tidak menjadikan seluruh madzhab Sunni menyimpang. Lantas, kenapa jika ada kelompok sempalan Syiah yang menyimpang maka seluruh mafzhab Syiah dianggap menyimpang?

Mengapa Kita Harus Membenci Syiah? Alasan Kita Membenci Syiah? Banyak Sekali Artikel Sekarang Yang Mengharuskan Kita Membenci Syiah Sebagai Salah Satu Aliran Sesat Dan Kaum Terbodoh atau Kaum Penghianat Umat Islam.

Sungguh perbuatan yang melelahkan jika kita selalu mencari perbedaan dan keburukan orang atau kelompok lain. Seharusnya kita lebih membenahi diri dengan menebarkan kasih dan keselamatan antarsesama (afsussalaam), karena itu adalah ajaran Islam yang sebenarnya. Sedangkan untuk masalah perbedaan bukanlah hak kita untuk menilainya. Biarlah Allah saja yang menilai kita (Sunni dan Syiah) dan menentukan siapa yang paling baik (benar) antara kita, karena Dia-lah Al-Hakim. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mempererat ukhuwah imaniyah agar dunia menjadi lebih tentram dan damai. Hanya iblis yang selalu mencari permusuhan!!!

A (Syiah) : “Kenapa sih kamu benci sama Syiah?”

B (Ahlus Sunnah) : “Karena Syiah menghina dan mengkafirkan Abu Bakar dan Umar.”

A : “Kami tidak mengkafirkan mereka, yang mengkafirkan adalah Rafidhah, adapun kami bukan rafidhah tapi hanya syiah. Rafidhah sudah pasti Syiah, sedangkan Syiah belum tentu Rafidhah.”

B : “Dan kalian juga ghuluw (berlebih2an) terhadap imam-imam kalian sendiri. Kalian menganggap mereka ma’shum, kalian juga taqlid buta kepada mereka, semuanya kalian ikuti walaupun itu salah.”

A : “Apakah kalian tidak taqlid kepada imam-imam kalian?”

B : “Kami tidak taqlid kepada siapapun kecuali Rasulullah, karena selain Rasulullah tidak ma’shum, dan mereka bisa benar bisa salah.”

A : “Yang menganggap mereka ma’shum adalah dari Rafidhah, bukan dari kami. Ana mau tahu, apa madzhab kalian sebagai orang Indonesia?”

B : “Madzhab kami atau kebanyakan orang Indonesia adalah Madzhab Syafi’iyah.”

A : “Siapa Imamnya?”

B : “Imam Asy Syafi’i.”

A : “Nah…kamu tahu tidak, kalo Imam Syafi’i adalah Syiah dan mengakui Syiah, sama seperti kami.”

B : “Apa buktinya? Imam Asy Syafi’i adalah seorang Ahlus Sunnah, Bukan Syi’i.”

A : “Buktinya adalah dari syairnya beliau sendiri yang terkenal. Beliau berkata,
‘Jika Rafidhah itu adalah mencintai keluarga Muhammad, Maka hendaknya dua makhluk (jin dan manusia) bersaksi bahwa aku adalah seorang Rafidhi.’

B : “Ana tahu syair itu. Memang itu syair beliau. Dan selamat, perkataan kamu telah menjadi bumerang bagi kamu sendiri alias senjata makan tuan.”

A : “Ada apa dengan bait syair itu? Bukankah itu bukti yang jelas kalau Imam Syafii adalah Syi’i dan mengakui tentang kebenaran Syiah?”

B : “Pertama, perkataan Imam Syafi’i tersebut mengambil atau mengikuti dari firman Allah,
“Katakanlah, jika benar Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak, Maka Akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).” (QS. az-Zukhruf: 81)

Apakah kamu menyakini bahwa ar-Rahman memiliki anak?! Tidak, sekali lagi tidak. Oleh karena ar-Rahman tidak memiliki anak itu maka Allah menggunakan susunan bahasa ini untuk menolak ucapan orang2 musyrik dan klaim mereka.

Jadi, Imam as-syafi’i menggunakan susunan bahasa al-Qur`an, yang membawa balaghah besar yang layak dengan kedudukan dan keluasan ilmu Imam as-Syafi’i. Imam as-Syafi’i dengan ucapannya: ‘Jika Rafidhah itu adalah mencintai keluarga Muhammad’, bermaksud mengungkapkan kemustahilan kalau al-Rafdh dimaknai kecintaan kepada keluarga Muhammad’.

Metode Imam Syafi’i ini telah dikenal oleh para ahlul ilmi. Sebagai contoh, saat orang2 liberal mengingkari kita karena berpegang teguh dengan agama ini, dengan menyatakan bahwa keteguhan itu adalah fanatisme, dan fanatisme itu merupakan satu keterbelakangan dan kemunduran, maka kita menjawab mereka dengan mengatakan, ‘Jika berpegang teguh dengan Islam itu adalah satu keterbelakangan dan kemunduran, maka saksikanlah bahwa kami orang2 yang mundur dan terbelakang.’

Kedua, kamu hanya mengambil bait syair sebagian saja, padahal masih ada lanjutannya dan bait2 syair lainnya. Beliau juga berkata,

“Mereka mengatakan, ‘Kalau begitu Anda telah menjadi Rafidhi?’ Saya katakan, ‘Sekali-kali tidak… tidaklah al-Rafdh (menolak Khalifah Abu Bakar dan Umar) itu agamaku, tidak juga keyakinanku.”

Di sini, Imam Syafi’i Rahimahullah berlepas diri dari Rafidhah (Syi’ah), dan menampakkan keheranannya dari pertanyaan ini. Kemudian dia menyatakan dengan terang-terangan bahwa dia tidak berada diatas agama Syi’ah (Rafidhah), tidak juga di atas keyakinan mereka.

A : “Glekkk….”

B : “Eiit…tunggu dulu…masih ada yang ketiga..”

A : “Apa itu?”

B : “Ketiga, kamu membawakan hujjah dari syair Imam Asy Syafi’i yaitu ‘Maka hendaknya dua makhluk (jin dan manusia) bersaksi bahwa aku adalah seorang Rafidhi.’ Disini Imam Syafi’i memakai kata Rafidhi, bukan memakai kata Syi’i, padahal di awal kamu mengatakan bahwa kamu adalah Syiah dan bukan Rafidhah. Aneh bukan, kamu mengaku bukan Rafidhi tapi hujjah yang kamu bawakan adalah tentang Rafidhi? Nah, berhubung kamu membawakan hujjah tentang Rafidhi, maka mulai sekarang ana menganggap kamu adalah Rafidhi, atau Rafidhah dengan Syiah sama saja…!”

A : “Glek lagi…”

Berikut pendapat imam asy syafii tentang syiah.

– Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek! (terbodoh)”. (al-Manaqib, karya al-Baihaqiy, 1/468. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

– Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah.” (Adabus Syafi’i, m/s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

– Al-Buwaitiy (murid Imam Syafi’i) bertanya kepada Imam Syafi’i, “Bolehkah aku shalat di belakang orang Syiah?” Imam Syafi’i berkata, “Jangan shalat di belakang orang Syi’ah, orang Qadariyyah, dan orang Murji’ah” Lalu Al-Buwaitiy bertanya tentang sifat-sifat mereka, Lalu Imam Syafi’i menyifatkan, “Siapasaja yang mengatakan Abu Bakr dan Umar bukan imam, maka dia Syi’ah”. (Siyar A’lam Al-Nubala 10/31)

– asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana Allah menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. (Surah al-Hasyr, 59: 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa’i).” (at-Thabaqat, 2/117. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/487)

– Imam as-Subki Rahimahullah berkata, ‘Aku melihat di dalam al-Muhith dari kitab-kitab Hanafiah, dari Muhammad (bin Idris as-Syafi’i) bahwa tidak boleh shalat di belakang Rafidhah.’ (Fatawa as-Subki (II/576), lihat juga Ushulud Din (342))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *