In Memoriam Bakir Abdullah

Bakir-Abdulullah-In-Memoriam

Bakir Abdullah Merupakan Salah Satu Dosen IAIN Cirebon Yang Pensiun Di Awal Tahun 2000-an, Bapak Dari Tiga Orang Anak.

Setiap Sholat Jumat Di Bulan Ramadhan Selalu Teringat Beliau, Karena Beliau Meninggalkan Kami di Hari Jumat Sebelum Sholat Jumat.

Bakir-Abdulullah-In-Memoriam

Kala Aku diam Di Kursi Goyang

Mata Ku Tajam Menatap Kedepan

Membayangkan Semua Hal Indah

Yang tercatat begitu Indah

Dalam Sejarah Kehidupan

Aku yang dulu Begitu Gagah

dan Kini Menjadi seorang Yang Lemah.

Karna Aku Adalah Seorang Usia Lanjut,

Yang Menanti Ajal Menjemput ku.

Di Atas Sebuah Renungan Akan Kematian..

Rambut Hitam Berkilau Menjadi

Putih Yang Kusam.

Kulit Yang Indah Menjadi

Keriput Bagai tak Bertulang.

Karna Aku Hanyalah Seorang

Pria Yang Sudah Rentak tak Berdaya…
Puisi Itu Mungkin Menjadi Bait Yang Merdu Jikalah Beliau Hidup Sampai Kini, Cita-Citanya Berharap Memiliki Cucu Yang Banyak Dari Anak-Anaknya.

Juli 2011, 01.00 WIB Gula Darahnya Kembali Drop dan Harus Di Bawa Ke Rumah Sakit Karena HypoGlycemia, Dia Tidak Tahu Betul Apa Saja Obat Yang Telah Di Minumnya. Ternyata Obat Itu Adalah Obat Penurun Gula Darah.

Kami Yang Siap Siaga Menjaga Beliau Karena Memang Esok Hari Waktunya Check Up Ke RS Cipto Mangunkusumo Satu Tahun Pasca Pengangkatan Ginjal Akibat Komplikasi Diabetes Yang Memburuk.

Sebenarnya Setahun Sebelumnya Angka Harapan Hidup Beliau Sudah Kritis 50% Hidup Akibat Tumor Ganas di Ginjal Dan Harus di Rawat 30-40 Hari di Rumah Sakit Besar di Indonesia Itu. Tapi Tuhan Berkehendak Lain Dengan Membiarkannya Hidup Lebih Lama untuk berbuat Amal Kebaikan Dalam Satu Tahun Kedepan.

Ya Memang Benar, Setelah Keluar dari Rumah Sakit Tahun 2010. Beliau Makin Gemar Beribadah Ke Masjid, Mengaji Tadarus, Seolah-olah Beliau Tahu Umurnya Tidak Akan Lama Lagi. Dia Sudah Memesan Tanah Kuburan di Dekat Kedua Orang Tuanya Kepada Juru Kunci. Beliau Juga Gemar Memberi Wasiat Kepada Tetangga dan Kyai Setempat.

40 Hari Sebelum 5 Ramadhan 1432, Beliau Mendapatkan Mimpi Bertemu Dengan Teman Sekaligus Saudaranya Yang Telah Pergi Meninggalkannya, Teman Tersebut Melambaikan Tangannya, Seolah-olah Dia Harus Ikut Pergi Bersamanya Ke Alam Lain.

7 Hari Sebelum 5 Ramadhan 1432, Kondisinya Sudah Mulai Tidak Memungkinkan Untuk Bertahan, Penyakitnya Mengalami Komplikasi Yang Makin Parah, Dari Hernia, Sampai Bronchitis. Sehingga Dia Memerlukan Transfusi Darah Yang Cukup Sering Setiap Bulannya, Jikalau Tuhan Memberi Umur Sampai Saat Ini.

Ketika Itu Anak Perempuan Beliau Melahirkan Putri Keduanya, Jadi Beliau Memiliki Dua Cucu Laki-Laki Dan Perempuan. Kami Tetap Sibuk Di Rumah Sakit Menjaga Beliau Di Bandingkan Dengan Menyambut Kelahiran Anak Kedua Dari Anak Perempuannya.

Saya Juga Sedang Sibuk-Sibuknya Mengurus Skripsi di Salah Satu Universitas Swasta di Kota Depok, Jawa Barat. Dan Akhirnya Keteter Juga Postpone Sampai Lebaran.

2 Hari Sebelum 5 Ramadhan 1432, Seolah-olah Beliau Memaksa dan Sekuat Tenaga Ingin Berjumpa Dengan Anak Laki-Laki Pertamanya Yang Berada di Malang Yang Sedang Melanjutkan Pasca Sarjana di Universitas Brawijaya. Beliau Sudah Tak Dapat Berkomunikasi Dengan Baik, Hanya Lafazd Allah Saja Yang Keluar Dari Mulutnya.

1 Hari Sebelum 5 Ramadhan 1432, Anak Laki-Lakinya Datang Untuk Menengok Sang Ayah YanG Terakhir Kalinya, Denyut Jantung Dan Nafas Lebih Baik Dari Hari Kemarin. Meski Semuanya Menggunakan Alat Bantu Pernafasan, Seolah Dia Merasa Bahagia Dapat Melihat Semua Anaknya Berkumpul Saat Dia Akan Pergi.

Jumat 5 Ramadhan 1432, Sebelum Salat Jumat Adzan Sudah Berkumandang Terlebih Dahulu di Rumah Sakit Tanda Beliau Sudah Pergi Meninggalkan Kita Semua Di Hari Jumat Yang Mulia Dengan Pasaran Jawa Kliwon.

Ingin ku gali gundukan itu
Dan mencabut papan nama setiap dukaku
Biarlah nafasku memeluk tentangmu
Puisi-puisi gelap menimangku

Sajak berairmata merangkulku
Dan merambatkan tiap ratap disekitar gelap
Seolah kau utus jangkrik untuk memejamkan lelahku
Nyanyi cerita tentang dahaga merindu
Seolah kau titipkan restumu
Lewat dingin malam menyuap

Mantra-mantra penghapus basah tatapku
Tiap dendang lantun macapat mengiring sendu
Seperti suara hati yang tersampaikan padaku
Bahkan suara gitar berbeda saat anganku

Menuju kenangmu
Getar yang mencakar, melahirkan syair bak
pujangga berlagu
Ini untukmu, itu buatmu, dan doa sebagai bhaktiku

In Memorian Bakir Abdullah

One thought on “In Memoriam Bakir Abdullah

  1. Assalamualaikum, itu apa yai Baqir? Perkenalkan saya Ahmad Nafis Junalia, saya lahir di babakan ciwaringin cirebon. ibu saya bernama Hindun, saya punya mimide namanya Nafisah tidak lain ibu dari ibu saya, saya setelah lahir besar di Pemalang, jadi kurang paham dan hafal keluarga babakan ciwaringin cirebon, tolong sms saya ya di 085727137459. Terima Kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *