Cheng Beng Ziarah Kubur Leluhur Tradisi China Indonesia

Cheng Beng Ziarah Kubur Leluhur Tradisi China Indonesia Merupakan Tradisi Sembahyang Kepada Leluhur Orang Tua Yang Sudah Mendahului Kita. Cheng Beng Merupakan Kata Yang Berasal Dari Bahasa Hokkien Juga Merupakan Festival Qing Ming.

Cheng Sendiri Merupakan ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah ke kuburan sesuai dengan ajaran Khonghucu. Festival tradisional Tiongkok ini jatuh pada hari ke 104 setelah titik balik Matahari pada musim dingin (atau hari ke 15 dari hari persamaan panjang siang dan malam pada musim semi), pada umumnya jatuh pada tanggal 5 April, dan setiap tahun kabisat, Qing Ming jatuh pada tanggal 4 April.

Cheng Beng Ziarah Kubur Leluhur Tradisi China

Festival Qīngmíng 清明 sendiri diciptakan oleh Kaisar Xuanzong (唐玄宗) pada tahun 732 (Dinasti Tang). Dengan alasan apa? Sebab orang Tiongkok kuno mengadakan upacara pemujaan nenek moyang dengan cara terlalu mahal dan rumit. Dalam usaha untuk menurunkan biaya tersebut, Kaisar Xuanzong (唐玄宗) mengumumkan penghormatan tersebut cukup dilakukan dengan mengunjungi kuburan nenek moyang pada hari Qīngmíng 清明.

Di beberapa negara di Asia, Khususnya Chinese Indonesia peringatan Cheng Beng dianggap sangat penting artinya dan diperingati sebagai hari libur nasional selama beberapa hari. Selain perayaan Tahun Baru Imlek, Cheng Beng adalah tradisi penting bagi masyarakat tionghoa, karena pada masa inilah seluruh anggota keluarga berkumpul bersama menghormat dan memperingati leluhur mereka.

Festival ini juga diketahui dengan sejumlah nama lain:

  • Hari Semua Arwah
  • Festival Bersih Terang
  • Festival Ziarah Kuburan
  • Hari Menyapu Kuburan
  • Hari Peringatan Musim Semi

Secara astronomi, ini juga merupakan terminologi matahari. Dalam terminologi matahari, Festival Qīngmíng adalah pada hari pertama dari 5 terminologi Matahari, yang juga dinamai Qīngmíng. Nama yang menandakan waktu untuk orang pergi keluar dan menikmati hijaunya musim semi (Tàqīng 踏青, “menginjak tumbuhan hijau”), dan juga ditujukan kepada orang-orang untuk berangkat ke kuburan. Festival ini merupakan hari libur umum di Tiongkok (RRT), sama halnya juga di Hong Kong, Macau dan Taiwan.

Cheng Beng Ziarah Kubur Leluhur Tradisi China Indonesia

Ayo Kita Mengenal Sejarah Tradisi Cheng Beng

Sejarah Cheng beng dimulai sejak dulu kala dan sulit dilacak kapan dimulainya. Pada dinasti Zhou, awalnya tradisi ini merupakan suatu upacara yang berhubungan dengan musim dan pertanian serta pertanda berakhirnya hawa dingin (bukan cuaca) dan dimulainya hawa panas.

Tentang Hari Raya, Qing Ming termasuk salah satu di dalamnya. Di kalangan masyarakat Tionghoa banyak yang pulang mudik untuk Qing Ming-an karena dianggap lebih penting dari Xin Nian sehingga tiket pesawat untuk tujuan ke beberapa daerah melonjak cukup tajam.

Ada pula yang menghubung – hubungkan Qing Ming dengan Han Shi Jie ( Hari Makan Dingin ) yang merupakan peringatan wafatnya seorang menteri yang setia yang bernama Jie Zi Chui. Peristiwa tersebut terjadi kira – kira satu abad sebelum kelahiran Nabi Kongzi. Kala itu negeri Jin diperintah oleh Jin Xian Gong yang dipengaruhi oleh selirnya yang bernama Li Ji.

Selir itu memfitnah Shen Xing putra mahkota sehinga putra mahkota yang berbakti ini bunuh diri. Bahkan putra lainnya menyelamatkan diri ke luar negeri. Diantaranya Zong Er yang dikenal pandai dan dicintai banyak menteri. Zong Er bergelut dengan penderitaan dan sekian lamanya hanya daun – daun yang disantapnya. Suatu hari Zong Er ingin menyantap daging, Jie Zi Chui dengan bersembunyi mengiris pahanya dan setelah diolah menjadi masakan lalu disajikan kepada Zong Er yang menyantapnya dengan lahap.

Sekitar 19 tahun Zong Er terlunta – lunta. Dengan bantuan Qin Mu Gong, seorang raja muda, Zong Er dapat kembali ke negerinya dan menjadi raja muda dengan gelar Jin Wen Gong. Para menteri yang mendampingi Zong Er pada masa pelarian diberi hadiah, hanya Jie Zi Chui yang luput dari penghargaan itu.

Rasa kecewa mendorong kawan Jie Zi Chui menulis sanjak setelah tahu Jie Zi Chui bersama ibunya mengasingkan diri ke hutan. Jin Wen Gong yang membaca sanjak tersebut menjadi sadar. Jin Wen Gong teringat setelah dia menyantap hidangan daging, Jie Zi Chui berjalan timpang, rupanya daging itu adalah bagian dari kaki Jie Zi Chui.

Mengetahui Jie Zi Chui melarikan diri ke hutan, Jin Wen Gong memerintahkan prajuritnya untuk membakar hutan itu dengan harapan Jie Zi Chui keluar dari tempat persembunyiannya. Namun walau hutan ludes terbakar, Jie Zi Chui tidak juga terlihat, setelah ditelusuri ditemukan jenazah Jie Zi Chui yang mendekap jenazah ibunya di mulut gua.

Sejak itu Jin Wen Gong pada menjelang hari Qing Ming, berpantang makan daging dan memerintahkan rakyatnya tidak menyalakan api. Segala makanan tidak dihangatkan, maka dikenal sebagai hari makan dingin.
Qing Min yang jatuh pada setiap tanggal 5 April, kecuali bila tahun kabisat maju sehari, bagi umat Khonghucu merupakan hari untuk melakukan ziarah ke makam orang tua dan atau leluhurnya.

Dalam penanggalan Yin Li, Qing Ming jatuh dalam bulan tiga ( Sha Gwee / San Yue ) dan masih termasuk dalam musim semi. Kewajiban bersembahyang dan merapikan bangunan, barang dan warisan dari leluhur dalam musim semi dan musim rontok ( bulan Chit Gwee / Qi Yue ) terdapat dalam kitab Zong Yong XVIII : 3.

Memenuhi kewajiban tersebut berarti menunaikan bakti anak terhadap orang tuanya sebagaimana dimaksud dalam kitab Bakti XVIII, Nabi bersabda ; “ Seorang anak berbakti pada waktu kematian orang tuanya, tangisnya tidak meratap – ratap, menjalankan upacara tidak berpura – pura…; berkabung tidak lebih dari tiga tahun…; jenazah dikenakan pakaian mati lalu dimasukkan ke dalam peti mati, setelah disiapkan perlengkapan sembahyang, dilakukan upacara dengan disuasanai rasa duka…; dicari dan dikaji tempat untuk pemakaman…dan memperingatinya setiap datangnya musim semi dan musim rontok…; seorang anak yang berbakti dengan sempurna melaksanakan pengabdian kepada orang tuanya.”

Selain menunaikan kewajiban bakti; Qing Ming dianggap sebagai reuni keluarga, karena pada hari itu semua anggota keluarga dari berbagai daerah berdatangan untuk bersembahyang. Perjumpaan yang terjadi itu dijadikan ajang untuk saling melepas rindu dan menceritakan pengalaman masing – masing.

Ziarah yang dilakukan oleh para anggota keluarga itu, digunakan untuk membersihkan makam, baik dari kotoran yang melekat pada bangunan makam maupun dari rumput alang – alang atau tanaman lainnya, sehingga makam terlihat bersih ( Qing ) dan terang ( Ming ).

Qing ( bersih atau cerah, jernih ) dan Ming ( terang atau cemerlang ) diharapkan pula dapat terwujud dalam perjalanan anak, cucu dan atau keluarga besar almarhum / almarhumah sehingga dapat memuliakan nama orang tua dan atau leluhurnya ( Kitab Bakti I : 5 ). Dalam kitab Lun Yu I : 9, tertulis “ Hati – hati saat orang tua meninggal dunia dan jangan lupa memperingatinya sekalipun telah jauh…..”.

Setiap tanggal 5 April, menurut tradisi Tionghoa, adalah hari Cheng Beng (Mandarin: Qingming). Di mana menurut tradisi Tionghoa, orang akan beramai-ramai pergi ke tempat pemakaman orang tua atau para leluhurnya untuk melakukan upacara penghormatan. Biasanya upacara penghormatan ini dilakukan dengan berbagai jenis, misalnya saja membersihkan kuburan, menebarkan kertas sampai dengan membakar kertas yang sering dikenal dengan Gincua (mandarin:Yinzhi=kertas perak). Peringatan Cheng Beng ini biasanya dilaksanakan H-7 s/d H+7 dari tanggal 5 april setiap tahunnya, untuk memberikan kesempatan sanak keturunan yg jauh dari makam leluhurnya untuk bersembahyang.

Cheng beng adalah salah satu dari 24 Jieqi yang ditentukan berdasarkan posisi bumi terhadap matahari. Pada Kalender Gregorian AWAL (bukan akhir!) Cheng beng jatuh pada tanggal 5 April atau 4 April. Bila kita artikan kata Cheng beng, maka Cheng berarti cerah dan Beng artinya terang sehingga bila digabungkan maka Chengbeng berarti terang dan cerah. Saat Chengbeng ideal untuk berziarah dan membersihkan makam karena cuaca yang bagus (cuaca cerah, langit terang). Apalagi pada jaman dahulu lokasi pemakaman cukup jauh dari tempat pemukiman.

Bahkan bila ada orang yang tinggal jauh dari kampung halamannya,mereka akan berusaha untuk pulang ke kampung halamannya,khusus untuk melakukan upacara penghormatan para leluhur.

Kenapa pada hari cheng beng itu harus membersihkan kuburan?

Hari Menyapu Kuburan (Hari Pembersihan Pusara) dan Festival Bersih Terang adalah terjemahan yang paling umum dalam mengartikan ‘Qīngmíng 清明’ (清qīng : bersih,明míng : terang)

Untuk orang Tionghoa, hari ini merupakan suatu hari untuk mengingat dan menghormati nenek moyang. Setiap orang berdoa di depan nenek moyang, menyapu pusara dan bersembahyang dengan makanan, teh, arak, dupa, kertas sembahyang dan berbagai asesoris, sebagai persembahan kepada nenek moyang. Upacara ini adalah sangat penting bagi kebanyakan orang Tionghoa, terutama petani, dan biasanya dapat dilaksanakan 10 hari sebelum atau sesudah hari Qīngmíng 清明. Juga pada waktu Qīngmíng 清明, orang melakukan tamasya keluarga, mulai membajak sawah pada musim semi. Hal populer lain yang melakukan adalah memainkan layang-layang (dalam berbagai bentuk binatang, atau karakter dari Opera Cina).

Sesuai catatan, masyarakat Tionghoa di Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura dan juga beberapa daerah di Indonesia juga melanjutkan praktek dari kebiasaan ini.

Itu berkaitan dengan tumbuhnya semak belukar yang dikawatirkan akar-akarnya akan merusak tanah kuburan tersebut. Juga binatang-binatang akan bersarang di semak tersebut sehingga dapat merusak kuburan itu juga.Dikarenakan saat itu cuaca mulai menghangat, maka hari itu dianggap hari yang cocok untuk membersihkan kuburan. Selain cerita di atas, ada pula tradisi dimana jika orang yang merantau itu ketika pulang pada saat cheng beng, orang itu akan mengambil tanah tempat lahirnya dan menaruh di kantong merah. Ketika orang tersebut tiba lagi di tanah tempat ia merantau, ia akan menorehkan tanah tersebut ke alas kakinya sebagai perlambang bahwa ia tetap menginjak tanah leluhurnya.

Dhamma, antara tradisi dan ajaran Sejak lahirnya apa yang disebut ‘agama Buddha’ dari ribuan tahun yang lalu sampai sekarang, sudah berkembang dan bercampur dengan tradisi setempat,sehingga sulit dikatakan mana yang ‘benar-benar’ ajaran Sang Buddha dan mana yang bukan.

Banyak orang Tionghoa masih melakukan tradisi secara turun menurun seperti Cheng Beng. Dengan menyadari hal ini, kita dituntut kebijaksanaan kita agar dapat membedakan mana yang sebenarnya tradisi dan mana yang Ajaran Buddha. Tetapi juga tidak salah kita tetap menjalankan tradisi, yang penting kita harus tahu dan memilah-milah antara tradisi dan agama Buddha. Sang Buddha sendiri tidak menolak bila kita mempertahankan tradisi yang sudah ada sejak turun menurun, yang penting kita jalankan adalah untuk kebaikan satu dan banyak orang.

Di dalam Sigalovada Sutta juga, Buddha sudah menjelaskan tentang kewajiban orang tua. Namun disamping itu,dijelaskan pula tentang kewajiban dari anak.Salah satu cara menghormati leluhur adalah dengan cara menjaga nama baik keluarga bahkan kalau bisa semakin mengharumkan nama keluarga dan juga mengatur pelimpahan jasa kepada sanak keluarga yang telah meninggal.

Asal Mula Kata Cheng Beng

Cheng Beng yang artinya Bersih dan Terang hampir pada saat orang Tionghoa merayakan sembahyang menjelang Sin-cia atau tahun Baru Im-lek. Ketika menjelang hari raya Tahun Baru Im-lek itu mereka membersihkan rumah – rumah mereka dari sampah dan debu.

Bedanya dibanding dengan Tahun Baru Im-lek, pada saat harian Cheng Beng ini orang – orang Tionghoa bukan membersihkan rumah – rumah mereka, tapi mereka membersihkan kuburan leluhur mereka.

Upacara membersihkan kuburan leluhur ini pun disebut The-tse atau dilafalkan dalaam bahasa Hok-kian menjadi The-coa, karena biasanya orang yang sudah membersihkan kuburan leluhurnya mereka menebarkan kertas yang berukuran panjang selebar ibu jari diatas kuburan yang baru dibersihkannya itu.

Sajian yang disajikan di depan bong-pai ( nisan ) leuhur pada saat mereka bersembahyang disana, biasanya tidak terlalu mewah seperti pada saat orang Tionghoa merayakan Sin-cia. Bagi orang – orang Tionghoa yang memelihara Hio-louw atau abu leluhur mereka, mereka mengadakan sembahyang di rumah mereka masing – masing.

Bagi orang yang kaya atau keadaanya lumayan, memang tidak ada larangan untuk sembahyang Cheng Beng dengan mewah sekali, karena itu tergantung dari masalah biaya yang tersedia.

Dipandang dari sudut tradisi bangsa Tionghoa, sembahyang Yun-li ini sama pentingnya dengan upacara sembahyang Tso-chih atau peringatan hari wafat orang tua mereka.

Hari raya Cheng Beng jatuh pada bulan tiga Yun-li, pada saat itu di Tiongkok pohon – pohon To sedang berbuah dan buahnya merah – merah ranum dan juga pohon Liu yang berdaun hijau, cuaca disana sedang nyaman dan indah, alam semesta pun kelihatan sangat cantik.

Di Tiongkok kita kenal ada empat musim besar, diantara 24 musim yang disebut Ji-sih Chiat-khi, empat musim besar itu ialah Musim Cun, Musim Chiu, Musim Hsia dan Musim T’ang atau yang disebut juga musim – musim seperti Musim Semi, Musim Gugur, Musim Panas dan Musim Dingin atau Musim turun Salju.

Diawal bulan tiga pada saat alam sangat indahnya, bersih dan jernih atau terang memang pantas dirayakan. Kaisar yang pertma menganjurkan dirayakannya hari raya Cheng Beng ini adalah Kaisar Cin Bun Kong yang kisahnya sudah diceritakan dibagian muka buku ini. Mengisahkan awal dari dirayakannya perayaan hari raya Cheng Beng tersebut.

Harian Cheng Beng di Indonesia selalu jatuh pada tanggal 3 – 4 dan 5 April setiap tahunnya, inipun penulis tidak mengetahui benar, mengapa harus selalu tepat pada tanggal 4 – 5 April saja? Mungkin karena menurut penghitungan penanggalan Im-lek, setiap empat kali dalam setahun hari raya Cen Beng ini akan jatuh pada tanggal 4 April.

Pada saat orang Tionghoa pergi bersembahyang di rumah maupun di kuburan leluhurnya, pada umumnya mereka membawa masakan yang sudah matang. Makanan yang disajikan semua makanan yang biasanya menjadi kesukaan almarhum dimasa hidupnya.

a. Doa Sembahyang Ching Bing Untuk Arwah Umum :

Puji dan syukur kami naikkan, Thian, Tuhan Yang Maha Esa telah berkenan kami berhimpun bersama pada hari Ching Bing hari Gilang Gemilang yang suci ini, melaksanakan upacara pengenaan dan penghormatan bagi arwah para leluhur, orang tua maupun saudara kami yang telah mendahulu. Kami panjatkan do’a kiranya Thian berkenan menerimanya didalam cahaya kemuliaan kebajikan, sehingga damai dan tenteram yang abadi boleh besertanya.

Diperkenan pula kiranya kami naikkan hormat puji kepada yang kami hormati : Malaikat Bumi ( Hok Tik Cing Sien ) yang selalu menjadi perawat bagi kehidupan di semesta alam atau di atas dunia ini.
Dipermuliakanlah.

Kehadapan yang kami hormati Hok Tik Cing Sien, kami naikkan hormat atas segenap kasih dan perawatan yang telah diberikan atas kehidupan di bumi ini maupun bagi arwah para leluhur, orang tua maupun saudara kami yang telah mendahului itu.

Penghormatan ini kiranya menjadi pendorong bagi kami untuk selalu berperilaku luhur dan mulia sebagai yang Thian firmankan serta yang dilambangkan oleh nama yang kami hormati, bahwa kebahagiaan / Rakhmat ( Hok ) dan Kebajikan ( Tik ) adalah merupakan kesatuan, kemanunggalan yang tak terpisahkan.
Dipermuliakanlah.

b. Sembahyang Ching Bing untuk arwah leluhur :

Para arwah leluhur, orang tua dan saudara kami yang telah jauh, pada hari Ching Bing, hari yang gemilang dan suci ini, terimalah hormat kami. Kami kenangkan bersama masa – masa lampau para leluhur yang telah serta sebagai peletak dasar peradaban dan penerus kehidupan ini. Kami yakin, segala yang mulia itu telah terbit dari Kebajikan, berbuah dari pengorbanan dan pengabdian para leluhur.

Sungguh, ini patut dan wajib kami kenang, kami hayati dan kami suriteladani sehingga menjadi pedoman dan teguh didalam Iman menghadapi tantangan dan segenap kewajiban hidup kami.

Saat ini semuanya kami sajikan dengan setulus hati dan sepenuh Kebajikan akan persembahan pernyataan bakti kami. Semoga, semua ini, para leluhur berkenan menerima sebagai pernyataan hormat dan kenangan suci kami. Kami yakin, Thian telah berkenan tempat yang sentosa bagi para leluhur dan para yan telah mendahului kami.
Dipermuliakanlah.

“ Hati – hatilah pada saat orang tua meninggal dunia, janganlah lupa memperingati leluhur sekalipun yang telah jauh. Dengan demikian rakyat akan tebal kembali kebajikannya ”. ( Lun Gi I : 9 )

Adapun yang dinamai berbakti ialah
Dapat melanjutkan cita – cita mulia dan
Dapat mengikuti usaha mulia dari
Leluhurnya ( Tiong Yong XVIII : 2 )

Laku bakti kepada orang tua
Tidak melanggar kesusilaan :
“ Pada saat hidup layanilah sesuai dengan Kesusilaan’
Saat meninggal dunia makamkanlah
Sesuai dengan Kesusilaan dan
Sembayangilah sesuai dengan Kesusilaan “
( Lun Gi II : 5 )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *