Kehidupan di Kota Santri Babakan Ciwaringin Cirebon

K.H. AMIN SEPUH (Babakan Ciwaringin Cirebon)

Kehidupan di Kota Santri Babakan Ciwaringin Cirebon Jawa Barat Indonesia Kerasnya Hidup di Pondok Pesantren Putra Putri Indonesia

Subuh Berlalu, Akupun Enggan Untuk Melalukan Shalat Subuh. Udara Cukup Dingin Menusuk Tulang. Akan Tetapi Suara Alunan Ayat Suci dari para santri mau tidak mau membangunkan aku dari lembutnya kasur yang empuk dan selimut. Bangun dari tempat tidur aku lantas pergi ke Mimi Tua (Panggilan untuk Nenek di Cirebon) untuk Mendengarkan Beliau Mengajar Santri-Santri Wanita Muda.

Benar, Aku Masih Sempat Melihat Wajah Nenek Cantik Bernama Ny. Sujinah Istri dari Kiyai Haji Amin Irsyad atau yang lebih di kenal dengan KH Amin Sepuh adalah seorang ulama legendaris dari Cirebon, selain dikenal sebagai ulama, beliau juga pendekar yang menguasai berbagai ilmu bela diri dan kanuragan, Beliau juga seorang pakar kitab Kuning sekaligus jagoan perang.

K.H. AMIN SEPUH (Babakan Ciwaringin Cirebon)

Aku Tidak Tahu Wajah Sang Kakek yang terkenal dari Cirebon itu karena Beliau Meninggal  atau wafat pada tahun pada tahun 1972. Kiyai Amin bin Irsyad, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kiyai Amin Sepuh, lahir pada Hari jum’at 24 Djulhijjah 1300 H, bertepatan dengan tahun 1879 M, di Mijahan Plumbon, Cirebon, Jawa Barat. Beliau adalah Ahlul Bait, dari silsilah Syech Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Djati.

Tapi Kadang Disitu Saia Merasa Sedih, Banyak Sekali Cucu-Cucu dan Anak Beliau dengan Sengaja Memamerkan Aurat, Disitu Kadang Saia Malu Menyandang Anak Kyai dan Anak Priyayi Kota Santri Babakan Ciwaringin Cirebon, Tapi Apalah Daya. Saya Mah Apa Atuh

Mungkin Jika Saia Meneruskan Kuliah di Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia Saia Akan Menulis Biografi, Pemikiran dan Jasa-Jasa Beliau Saat Adanya Agresi Belanda, dan Upaya Membangun Karakter Bangsa dengan Pondok Pesantren, Karena Data-Data Bisa Di Ambil Langsung Oleh Anaknya Yang Merupakan Ibunda Saia Sendiri. Dan Ponakan-Ponakan nya Yang masih Hidup Sampai Sekarang. Meskipun Ayah Berprofesi Sebagai Dosen Salah Satu Perguruan Tinggi Negeri Islam di Cirebon dengan Mata Kuliah Quran Hadist, Beliau Tidak Memaksa Anaknya Untuk Mengambil Jalur Yang Tidak Di Inginkan Oleh Saia Sendiri, Kehidupan Demokratis Selalu Ada di dalam Keluarga. Meskipun Begitu Memang Semua Tuhan Yang memberi Rezeki, Jalur Agamapun Pastinya Memberikan Rezeki Yang Berlimpah.

Kiyai Amin kecil yang belajar kepada ayahnya kiyai Irsyad(wafat di Mekkah) adalah contoh santri kelana tolen, yang berkelana ke berbagai tempat untuk menuntut ilmu dari para ulama yang mumpuni. Mungkin Jiwa Travellingku Sudah Turun Temurun dari Sang Kakek. Baru kali ini aku merasa bangga dengan sosok beliau, karena aku hanya mendengar namanya saja dan ceritanya dari orang-orang sekitar. Mimi (Sebutan Orang Cirebon Kepada Ibunda) saya pun tidak menceritakan hal tersebut.

Pada Masa penjajahan, para santri Kelana inilah yang menjadi mediator antar pesanteren untuk melawan penjajah. Sementara pesantren dimanapun adanya selalu menjadi basis perlawanan yang menakutkan bagi penjajah, para santri kelana ini menyebarkan informasi dari satu tempat ketempat yang lain dari satu pesantren kepesantren yang lain. tak jarang mereka juga yang memimpin perlawanan.

Berdasar amanah ayahandanya, Kiyai Irsyad, (yang masih cucu dari Ki Jatira / pendiri Pesarean Babakan Ciwaringin Cirebon, dari pihak ibu), Kiyai Amin agar belajar di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin pada Kiyai Ismail bin Nawawi yang juga masih keturunan Kiai Jatira (pendiri Pesarean Babakan Ciwaringin Cirebon). Berarti Kiai Amin Sepuh dan Kiai Jatira sama-sama dari Mijahan, Plumbon, Cirebon dan masih berhubungan cicit.

Kiyai Muda Energik ini, selain mengajarkan berbagai Khazanah kitab kuning juga memperkaya pengetahuan para santrinya dengan ilmu keislaman modrn yang mulai berkembang saat itu. Meski demikian, Seperti halnya pada kebanyakan pesantren, ilmu fiqih tetap menjadi kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut tata kehidupan sehari-hari masyarakat dan individu, dengan sikafnya itu Kiai Amin semakin dikenal diseluruh Jawa sebagai seorang ulama yang sangat alim dan berpemikiran Progresif.

Pasca Revolusi Kemerdekaan beliau terus mengembangkan Pesantren dengan berbagai aral melintang. Bahkan yang dahsyat adalah ketika Agresi Belanda II, tepatnya tahun 1952 Pondok Pesantren diserang Belanda. Dikarenakan KH. Amin Sepuh sebagai sesepuh cirebon merupakan pejuang yang menentang penjajah. Pondok dibakar dan dikepung. Para santri pergi dan para Pengasuh beserta keluarga mengungsi. Pada Tahun 1950-an Juga Hari Bersejarah dan Bahagia KH Amin Sepuh Yang Menikah dengan Wanita untuk Ketiga Kalinya.

Ny. Sujinah Adalah Merupakan Seorang Istri Ketiga dari KH Amin Sepuh. Ketika Menikah KH Amin Sepuh Yang Notabene Sudah Berumur 60 Tahun Ke Atas Menikah dengan Gadis Cantik Jelita Seorang Anak dari Kiyai Muhammad Amin Atau Orang Babakan Cirebon Sebut Kiyai Madamin Yang Masih Berusia 20 Tahun, Zaman Siti Nurbaya Nih, Perbedaan Umur 40 Tahun Tidak Membuat Yang Ada. Maklum Saja Usia Mimi Tua Sujinah 20 Tahun Sudah Di Katakan Perawan Tua Ketika Itu.

Dan Akhir Tahun 1950-an Lahirlah Anak Pertama Yaitu Kakak dari Mimi Saya (Kalau Situ Orang Babakan, Cirebon) Pasti Tahu. Akan Tetapi Saia Hidup dan Besar Bukan di Lingkungan Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Yang Penuh Adat dan Memegang Tradisi Teguh Islam dengan Budaya Nahdatul Ulama atau Salafi Kebanyakan.

Kehidupan di Kota Santri Babakan Ciwaringin Cirebon Sungguh Sangat Berbeda dari Kehidupan Dunia Di Negeri Seberang. Selama Berada disini Saia Harus Menggunakan Sarung atau Menutup Aurat Laki-Laki (Alias Menutup Sampai Telapak Mata Kaki) Terbiasa Hidup Bersama teman-teman di Daerah Kota Menggunakan Celana Pendek Tidak Menjadi Masalah Bagi Saia (Kalau Mau Sholat Tinggal Pakai Sarung). Memang Ajaran Itu Sering Saia Langgar Ketika Berada di Babakan, Akibatnya Banyak Omongan Gosip Satu Pesantren. Kalau Anak Kyai Kok Pakaiannya Begitu, Saia Tidak Ambil Pusing dengan Hal Itu. Malah Saat Ini Mereka Sudah Terbiasa dengan Gaya Hidup Saia. Tapi tetep Saia Hormati Adat dan Istiadat Masyarakat Setempat.

Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, Pasti kamu Mendengar Istilah Jin Putih atau Ghodam. Yah Benar di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, Para Kyai-nya Memiliki Jin-Jin Yang Siap Membantu Anda. Jangan Heran Jika Kamu Berada di Wilayah Ini. Jangan Sampai Ada Urusan Macam-Macam dengan Orang Cirebon Khususnya Orang Babakan Ciwaringin, Cirebon. Ilmu Keluarga Saia Juga Belum Ada Tandingannya dengan Yang di Miliki oleh Mereka. Contohnya Klien-Klien Bibi Saia Yang Konon Katanya Memiliki Indra Ke-Enam dan Pastinya Hafal Alquran di Luar Kepala, Tidak Ada Henti-Hentinya Berdatangan Kepada Beliau untuk di beri saran atau kritik tentang kehidupan Dunia.

Jika Anda Ada Urusan Percintaan dan Membuat Orang Lain Sakit Hati Pun Anda Bisa di Buat Sakit Juga, Saia Pernah Mengalami dan Menyaksikan Sendiri Kejadian Terhadap Pasien. Wanita yang menolak menikah dengan Seorang, Wanita Itu Seolah-olah di buat Malas Berdandan dan Terlihat Buruk, padahal dia seorang yang cantik jelita. Malas Makan, Sampai Badannya-pun Kurus. Dan Akhirnya Meninggal Dunia.

Kejadian-Kejadian Mistis Ini Membuat Saia Enggan Berurusan dengan Orang Babakan, Ciwaringin, Desa Santri Yang Terkenal Tersohor di Cirebon.

Tahun 1997, Ketika Rakyat China Sedang di Landa Kesusahan. Dan Kemudian Keluarga Saia Losari Adalah Rata-Rata Orang Chinese Turunan dari Silsilah Bapak. Kita Mengungsi atau Tinggal Agak Lama di Desa Babakan, Ciwaringin.

Selama Hidup disini Sekitar Satu Bulan, Enggak Betah (Maklum Banyak Jin Hitam dalam Diri Saia) Ketemu Jin Putih Jadi Berantem Mulu. Tapi Karena Saia Sendiri Salah Seorang Priyayi, Saia Seperti Di Layani Seorang Anak Raja. Apa-Apa Selalu Menyuruh, Karena Kebiasaan Apa-Apa Selalu Sendiri Jadi Merasa Risih dengan Hal Pelayanan dari Santri-Santri Yang Menuntut Ilmu di Pondok Pesantren Tempat Saya Tinggal. 10 Tahun Berlalu, Saiapun Sudah Jarang Pergi Ke Kota Santri Babakan Ciwaringin Cirebon. Mengapa Begitu? Iya Nenek Saia Ny. Sujinah Meninggal Dunia Pada Tahun 2000-an Dan Di Makamkan di Pemakanan Prestis Khusus Keturunan Kyai di Babakan Ciwaringin Cirebon. Karena Usia Yang Sudah Cukup Renta. Keluarga Ny. Sujinah Hanya Meninggalkan 2 Anak, Ibu Saia dan Paman Saia. Karena Kebetulan Saia dan Kakak Saia adalah Pria Hanya Cucu Laki-Laki Dewasa Ketika Itu Maka Saia Sudah dan Berkewajiban Menguburkan Wanita Cantik Ini Di Usianya, Tidak Ada Rasa Takut Ketika Saia Melepaskan Ikatan Tali Pocong Putih Beliau Karena Beliau Selalu memberikan Uang Jajan Kepada Saia dan Pasti Ketika Saia Mengunjungi Beliau di Usianya Yang Cukup Renta. Ketika Sakit dan Ling Lung Lupa Tentang Anaknya dan Cucunya Sendiri. Beliau Tidak Pernah Lupa Batas Bacaan Alquran Yang Sudah Di Baca. Itu Masa Kecil Yang Saia Tidak Pernah Lupa. Saia Juga Ingin Seperti Beliau Yang Selalu Ingat Tuhan di Akhir Hayatnya.

Setelah Pemakaman Selesai Seperti Biasa, Adat Pondok Pesantren Yang Mengharuskan Tahlil Mingguan, Seratus, dan Seribu Hari. Tetap Di Lakukan.

KH.Maksum Hanan Adalah Paman Baihaqi Zhai

Mimi Tua Sujinah Meninggal Tidak Serta Merta Membuat Saia Meninggalkan Dunia Pesantren Babakan Cirebon Ciwaringin. Setiap Tahun Atau Setiap Saia Pulang Kampung Halaman di Cirebon Kita Selalu Menyempatkan Untuk Berdoa dan Bersilaturahmi dengan Kyai-Kyai Besar di Babakan Ciwaringin, Cirebon.

Kemenag Surya Dharma Berkunjung Ke Babakan Ciwaringin
Sebelah Kanan Rumah Mimi Tua Ny Sujinah Babakan Ciwaringin

Tak Selamanya Kehidupan di Kota Santri Babakan Ciwaringin Cirebon Itu Buruk, Jangan Lupa Mampir Yah di Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon Yang Sudah Pudar dan Tidak Begitu Diminati oleh Para Santri dari Penjuru Dunia Tanah Air.

One thought on “Kehidupan di Kota Santri Babakan Ciwaringin Cirebon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *