Bangga Punya Nama Chinese, Mengapa Tidak?

Bangga Punya Nama Chinese, Mengapa Tidak? Masih Dalam Suasana Imlek Tahun Baru, Baihaqi Zhai Ingin Membagikan Artikel Tentang Pemberian Nama Chinese. Tjong Banhok? Ini merk minyak angin? Anda mungkin tidak kenal nama apa ini. Tapi kalau saya sebut ‘Ahok’, semua orang pasti tahu ini nama gubernur (masih Plt ya?) DKI Jakarta saat ini.

Tjong Banhok adalah nama lengkap Tionghua Ahok, dilafalkan dengan bahasa (dialek) Khe’ (Hakka), karena di Belitung, daerah kelahiran Ahok, mayoritas Tionghua sana menggunakan dialek Khe’.

Anak Tionghua di Indonesia yang lahir sebelum tahun 1970-an masih banyak yang masih diberi orang tuanya nama Chinese (Zhongwen Xingming). Tapi –terutama Tionghua yang lahir di Pulau Jawa yang nyaris tidak pernah menggunakan nama Chinese lagi sejak itu– sering terdengar jawaban yang seragam saat ditanya apa nama Chinese-nya, “Waduh apa ya nama Chinese saya, kayaknya ini….” atau “Oey Yongseng, tapi ga tau gimana tulis dan artinya”. Malah masih banyak orang Tionghua yang tidak memiliki nama Chinese dan tidak peduli dengan itu.

Bangga Punya Nama Chinese Mengapa Tidak

Banyak teman saya di Indonesia bertemu dengan client asal China dan Taiwan atau jalan-jalan ke sana, lalu dengan bangga mengaku sebagai keturunan Tionghua di Indonesia. Saat ditanya nama Mandarinnya, tidak ada atau tidak tahu! (Baca artikel selanjutnya: Gimana Cara Beri Nama Chinese yang Tepat dan Modern). Hal yang aneh ini ada pengaruh ke ‘guanxi’ (relationship) Anda karena setiap orang keturunan Tionghua bukannya seharusnya memiliki nama Chinese dan tahu cara tulisnya dalam Hanzi, meskipun kosa kata Mandarin Anda nihil -cuma bisa “Nihao” dan “Xiexie” saja.Bahkan ABC (American Born Chinese) yang lahir di US, bergaya rapper dengan rambut gimbal pun punya nama Chinese. Tionghua-Tionghua di Singapore dan Malaysia juga masih bernama Chinese di KTP mereka hingga hari ini.

Orang China/Taiwan lebih gampang mengingat seseorang yang punya nama Chinese. Mereka juga lebih familiar membaca tulisan nama Chinese (Hanzi) ketimbang nama KTP Anda dalam huruf Latin (abcd). Dari pengalaman saya sendiri, orang China/Taiwan lebih gampang dan suka menyebut nama Chinese saya ketimbang nama akte lahir saya. Dan Anda yang (pernah) tinggal di China/Taiwan pasti sudah jauh lebih mengerti tentang hal ini.

Berkenalan dengan orang China/Taiwan dengan nama KTP Anda adalah normal. Karena banyak orang China/Taiwan juga ingin kelihatan keren, mereka ingin menyebut nama seseorang dalam bahasa non-Mandarin. Dan juga di bayangan mereka, orang Indonesia (termasuk Tionghua-nya) sangat jarang yang punya nama Chinese. Jadi, jika Anda ‘melawan arus’ dengan punya nama Chinese, mereka akan lebih ingat Anda dibanding orang lain. Bahkan Anda yang non-Tionghua pun disarankan punya dan bisa menulis serta mengucapkan nama Anda dalam tulisan Chinese (Hanzi) jika ingin lebih diingat oleh client China/Taiwan Anda.

Sama seperti orang Batak, nama Chinese –terutama marga– juga berfungsi untuk menelusuri silsilah keturunan leluhur orang Tionghua. Ini berguna karena kita sebaiknya tidak menikah dengan orang yang masih memiliki hubungan keluarga dekat. Dengan tahu marganya, banyak orang tua Tionghua yang peduli tentang ini bisa “menginterogasi” calon pasangan. Dalam ilmu kedokteran pun disebutkan, tidaklah baik menikah dengan orang yang masih mempunyai hubungan darah.

Untuk memberi nama Chinese yang benar dan aman, gunakanlah pelafalan nama Mandarin (Putonghua/Guoyu). Banyak orang di Indonesia –yang tidak tahu kalau di China banyak dialek– masih memperkenalkan diri dengan nama berdialek Hokkian, Khe’, Canton, atau dialek-dialek lain (sesuai asal leluhurnya). Baiknya gunakan prinsip “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Maksudnya seharusnya mereka tidak memperkenalkan nama dialek Hokkian ke orang Beijing (karena orang Beijing tidak ngerti dialek Hokkian), atau nama dialek Canton ke orang Tionghua Belitung yang berbahasa Khe’ (karena orang Khe’ ga ngerti dialek Canton). Jadi Jaka Sembung bawa golok.

Kenapa perkenalkan nama Anda lebih aman dalam Mandarin?

Pepatah “见人说人话,见鬼说鬼话 Jian ren shuo ren hua, jian gui shuo gui hua (Berbicara bahasa manusia dengan manusia, berbicara bahasa hantu dengan hantu)” memang penting. “Saya sendiri orang Hokkian, dan otomatis tahu pelafalan nama saya sendiri dalam dialek Hokkian dan Mandarin. Tapi saat saya ke Hongkong, saya tidak akan memperkenalkan nama saya dalam bahasa Hokkian, karena saya tahu orang Hongkong berbicara bahasa Canton dan tidak ngerti Hokkian. Dalam keadaan begini, amannya saya memperkenalkan nama dalam pelafalan Mandarin.” Ujar Alfonso. Pelafalan nama dalam Mandarin bisa nyambung dan dimengerti oleh seluruh suku warga Chinese di seluruh dunia yang berbeda-beda bahasa/dialek.

Artikel Ini Di Ambil dari Alfonso Pemilik Everyday Mandarin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *