Susahnya Belajar Ilmu Ikhlas dan Positif Thinking

Positive Thingking

Susahnya Belajar Ilmu Ikhlas dan Positif Thinking, Kita Hidup Hanya Satu Kali dan Manfaatkan Kesempatan Hidup Anda Dengan Sebaik-Baiknya. Perjalanan Tahun 2014 Silam, Banyak Mengajarkan Saia Tentang Makna Hidup Yang Sesungguhnya. Di Mulai dari Perjalanan Spiritual Umroh Backpacker Belajar dari Pengalaman Sampai Perjalanan Keliling Dunia Saia Yang Lain.

Positive Thingking

Tuhan saja dalam Kitab Suci meminta untuk menjelajahi dunia ini agar kita mampu melihat, bagaimana ciptaaNYA yang berbeda, beragam, itu semua demi semata-mata kita belajar dan mempertebal iman kita. bahkan budaya dan agama orang lain hadir karena beragamnya dunia ini dan semua itu bisa kita lihat untuk kita belajar. kita bisa lihat banyak peninggalan sejarah, bangunan yang ditinggalkan manusia di berbagai negri, bahkan bangunanya tampak maju dan megah, tapi sekarang bisa ditinggalkan oleh manusia bahkan tak berpenghuni, kenapa? mengapa? tentu dibalik itu ada kisah dan itu bisa jadi pembelajaran bagaimana Tuhan mampu melakukan apapun. Ilmu Travelling Membuat Diri Kita Selalu Bersyukur dengan Kejadian-Kejadian Yang Ada.

Sering Kali Saia Sendiri Sering Mengganggap Orang Lain Itu Lebih Rendah dari Diri Saia Karena hanya Melihat dari Penampilannya Saja. Memang benar kalau ada Nasihat bahwa “jangan pernah menilai dan menvonis seseorang karena tampilan luarnya saja” karena itu akan banyak menipu dan membuat kita berprasangka buruk terhadap sesorang, berikut ini ada sebuah pelajaran penting yang dtulis oleh Syaikh Ali Jaber untuk kita agar lebih berhati – hati menilai seseorang. Coba kita simak dengan iman sebuah firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12). Sebuah peringatan jelas dari Allah untuk orang-orang yang beriman agar menjauhi prasangka. Karena tabiatnya prasangka akan menjurus pada keburukan, memandang rendah orang lain, dan yang paling parah mengarah pada fitnah.

Seringkali Kita suka Merendahkan Orang Lain, Bahkan Sering Kali Kita Berburuk Sangka Terhadap Orang Lain. dan Suka Memberikan Penilaian Negatif Terhadap Orang Lain. Tidak Di Pungkiri Saia Sendiri Sering Berprasangka Buruk dan Negatif Thinking Terhadap Orang lain. Saia Jadi Teringat Sebuah Cerita.

Dikisahkan bahwa suatu malam Sultan Murod Ar-Rabi` mengalami kegundahan yang sangat, dan dia tidak mengetahui sebabnya. Maka Sang Sultan memanggil kepala penjaga/sipir dan memberitahukan tentang keadaannya yang sedang gundah, dan memang merupakan kebiasaan Sultan bahwa dia sering memeriksa keadaan masyarakat/rakyatnya secara sembunyi-sembunyi.

Maka Sultan berkata kepada Kepala Sipir : Mari kita keluar, jalan-jalan di antara penduduk (guna memeriksa dan memantau keadaan mereka). Mereka pun berjalan hingga sampailah di sebuah penghujung desa, dan Sultan melihat seorang pria tergeletak di atas tanah. Sultan menggerak-gerakknnya (untuk memeriksa) dan ternyata pria tersebut telah tewas. Namun anehnya orang-orang yang melintasi dan berlalu lalang di sekitarnya tidak memperdulikannya. Maka Sultan pun memanggil mereka, tapi mereka tidak mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah Sang Sultan,

Mereka berseru : Ada apa?
Sultan : Kenapa pria ini tewas dan tidak seorangpun yang membawanya? Siapa dia? Dan dimana keluarganya?
Mereka berujar : Ini orang zindiq, suka minum khomar, pezina.
Sultan menimpali : Namun bukankah dia dari golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam?

Ayo bawa dia ke rumah keluarganya.
Maka mereka pun membawanya.
Ketika sampai di rumah, istrinya pun melihatnya dan langsung menangis.
Dan orang-orang pun mulai beranjak pergi, kecuali Sang Sultan dan Kepala Sipir.

Di tengah tangisan si wanita (istri si mayit), dia berseru kepada Sultan (namun wanita tersebut tidak mengetahuinya) : Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah, aku bersaksi bahwa engkau sungguh wali Allah.

Maka terheranlah Sultan Murod dengan ucapan wanita tersebut, dan berkata : Bagaimana mungkin aku termasuk wali Allah sementara orang-orang berkata buruk terhadap si mayyit, hingga mereka enggan mengurusi mayatnya. (Penjaga, Sultan merasa heran, bagaimana mungkin seorang zindiq ditolong oleh wali Allah)

Wanita pun menjawab : Aku sudah duga hal itu,  Sungguh suamiku setiap malam pergi ke penjual arak/khomar lantas membeli seberapa banyak yang dia bisa beli, kemudian membawanya ke rumah kami dan menumpahkan seluruh khomar ke toilet, dan dia (suami) berkata : Semoga aku bisa meringankan keburukan khomar dari kaum muslimin.

Suamiku juga selalu pergi kepada para zaniah/pelacur dan memberinya uang, dan berkata : malam ini kau ku bayar dan jangan kau buka pintu rumahmu (untuk melacur) hingga pagi, Kemudian suamiku kembali ke rumah dan berujar : Alhamdu lillah, semoga dengan itu aku bisa meringankan keburukannya ( pelacur) dari pemuda-pemuda muslim malam ini. Namun sementara orang-orang menyaksikan dan mengetahui bahwa suamiku membeli khomar, dan masuk ke rumah pelacur, Dan lantas mereka membicarakan suamiku dengan keburukan.

Pernah suatu hari aku berkata pada suamiku : Sungguh jika seandainya engkau mati, maka tidak akan ada orang yang akan memandikanmu, menyolatkanmu, dan menguburkanmu. Suamikupun tersenyum dan menjawab : Jangan khawatir Sayangku… Sultan/Pemimpin kaum muslimin lah yang akan menyolatkanku beserta para ulama dan pembesar-pembesar negeri lainnya.

Setelah mendengarnya Sultan pun menangis lantas berkata : Suamimu benar, Demi Allah aku adalah Sultan Murod Ar-Robi`, dan besok kami akan memandikan suamimu, menyolatkannya dan menguburkannya. Dan diantara yang menyaksikan jenazahnya adalah Sultan Murod, para ulama, para masyayikh dan seluruh penduduk kota. Maha Suci Allah, kita hanya bisa menilai orang dengan hanya melihat penampilan dan kulit luarnya dan kita pula hanya mendengar omongan orang. Maka sendainya jika kita mampu bijak, kita akan memandang dan menilai orang dari kebersihan hatinya, Maka niscaya lisan kita akan kelu membisu dari menceritakan keburukan orang lain.


Dalam rangka menyembunyikan amalan puasa sunnah, sebagian salaf senang berhias agar tidak nampak lemas atau lesu karena puasa. Mereka menganjurkan untuk menyisir rambut dan memakai minyak di rambut atau kulit di kala itu. Ibnu ‘Abbas mengatakan,

“Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka hendaklah ia memakai minyak-minyakan dan menyisir rambutnya.”

Daud bin Abi Hindi berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satupun orang, termasuk keluarganya yang mengetahuinya. Ia adalah seorang penjual sutera di pasar. Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya. Jadi orang-orang di pasar mengira bahwa ia telah sarapan di rumahnya. Sedangkan orang-orang yang berada di rumah mengira bahwa ia menunaikan sarapan di pasar. Masya Allah, luar biasa trik beliau dalam menyembunyikan amalan.

Begitu pula para ulama seringkali membatalkan puasa sunnahnya karena khawatir orang-orang mengetahui kalau ia puasa. Jika Ibrohim bin Ad-ham diajak makan (padahal ia sedang puasa), ia pun ikut makan dan ia tidak mengatakan, “Maaf, saya sedang puasa”. Itulah para ulama, begitu semangatnya mereka dalam menyembunyikan amalan puasanya.


Ya Tuhan Ampunilah Dosaku Karena Selalu Berprasakan Buruk Terhadap MahlukMu dan DiriMu Sendiri, Aku Tidak Ingin Seperti Nabi Musa Yang Selalu Berprasangka Buruk Terhadap Nabi Khidir, Sampai Berita Kebenaran Itu di Ungkapkan. Berilah Aku Ilmu Ke-Ikhlasan Yang Berlebih Sehingga Aku Menjadi Manusia Yang Selalu bersyukur Atas Nikmat KaruniaMu. Jadikan Aku Seorang Yang Selalu Dapat Menyembunyikan Amalan-Amalan Yang Engkau Perintahkan. Aku Hanya Manusia Yang Tidak Pernah Luput dari Salah dan Dosa.

So Kawan-Kawan Tetap Keep Positive dan Selalu Belajar Ikhlas, karena Hidup Adalah Penuh Pembelajaran. Jangan Lupa Keep In News on BHQ.web.id Karena Akan Bercerita Pengalaman Menarik Selama 2015 Ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *