Cahaya Cinta China Cirebon

Cahaya Cinta China Cirebon

Cahaya Cinta China Cirebon – Pure Love of China Cirebon – Suara dari Klenteng dengan Alunan Lagu Rohani para Biksu terdengar begitu halus dan merdu di pagi hari di iringi dengan suara kicauan burung yang masih asri. Sinar Mentari seolah-olah masih enggan menyapa pagi yang mulai di sibukkan dengan suasana pasar yang hiruk pikuk dengan banyaknya orang yang berjualan. Kegiatan di Klenteng seolah-olah tidak terganggu dengan wira-wiri para pembeli di pasar tradisional tempat bertemunya para penjual dan pembeli dari berbagai pelosok desa.

Cahaya Cinta China Cirebon
Cahaya Cinta China Cirebon

Para Pribumi dan China membaur menjadi satu, memang menjadi pusat kegiatan di area klenteng tersebut terlalu ramai dengan China-China Daratan yang baru saja datang dari Daratan Tiongkok atau berasal dari Batavia setelah lolos dari Hukuman Kerja Paksa dari PemerintahNetherlands East Indies.

Kebanyakan China Daratan yang bermukim di Losari ini berasal dari Suku Hokchia tentunya memiliki bahasa sendiri banyak menggunakan bunyi sengau selain Bahasa Mandarin Sebagai Bahasa Resmi Republik Rakyat China. Hokchia itu nama sebuah tempat di daerah Hokkian, tepatnya Kotamadya Fuqing. Boleh digolongkan ke dalam orang Hokkian. Orang Hokchia memiliki asal leluhurnya dari Hokchia, seperti halnya orang Tiochiu berasal dari Kotamadya Tiochiu di Provinsi Guangdong.

Losari sendiri merupakan daerah di ujung timur Cirebon, Kesultanan Cirebon sudah terbagi menjadi dua yaitu Kesultanan Kanoman dan Kesultanan Kasepuhan. PemerintahNetherlands East Indies pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaan para pemilik Kerajaan Cirebon.Losari merupakan daerah strategis memiliki Sungai Losari yang dapat di lalui oleh para Nelayan dari Laut Jawa mengantarkan Ikan-Ikan Hasil Tangkapan dari Laut Jawa.

Sa Liem panggilanku saat masih kecil dan berada di tengah-tengah pasar, Saia biasa hidup di tengah-tengah pasar dengan para Ooh (panggilan laki-laki china yang lebih tua) dan Taci (panggilan perempuan china yang lebih tua) untuk mengirimkan beras kepada toko-toko yang ingin membeli atau menstock barang dagangan kelontong mereka.

Di sudut Klenteng terlihat seorang Taci dengan muka lelah sambil menggendong bayi dan di kelilingi anak-anak yang sedang bermain. Wajahnya mulai muram saat barang dagangannya tidak kunjung laku, Taci itu menjajakan jajanan khas China Dodol Keranjang di beri parutan kelapa. Memang jajanan itu tidak terlalu enak dan tidak cocok untuk masyarakat dan penduduk pribumi di Losari. Tapi Apa Boleh Buat, mungkin hanya itu yang dia dapat lakukan untuk menghidupi keluarganya.

Seolah tersentuh dengan taci tersebut, akhirnya saia mencoba mendekat kepada taci dengan anak kecil tersebut, Saia membeli 10 Sen. Taci itu akhirnya tertawa bahagia ketika saia membeli dagangannya. Saia memberanikan diri untuk bertanya Siapa Nama Taci ini? Dia menjawab dengan wajah berseri-seri “Wo Shi Tan Mei Ah” (Nama Saya Tan Mei). Saia menjawab Balik “Wo Jiao Sa Liem, Xie Xie” (Panggil Saia Sa Liem, Terima Kasih). Meski kita dapat berkomunikasi china dengan baik obrolan di lanjutkan dengan bahasa Netherlands East Indies yang sudah akrab di dengar oleh masyarakat pribumi Sekitar.

still Continue For This Part

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *