Tradisi China Muslim di Losari saat Lebaran

Tradisi China Muslim di Losari saat Lebaran

Tradisi China Muslim di Losari saat Lebaran РPulang Kampung merupakan Salah Satu Tradisi Rutin Saat Berlebaran Tiba Meski Setahun Dalam Sekali Tradisi Mudik Selalu Menjadi Alasan Menarik China Muslim untuk balik ke Kampung, Saatnya Bercerita Kampung Halamanku Kembali, Keluarga Besar Losari Selalu Mengadakan Acara Silaturahmi Setiap Hari Raya Idul Fitri Atau Dalam bahasa Kami Ngelancong Ke Sanak Family.

Tradisi China Muslim di Losari saat Lebaran
Tradisi China Muslim di Losari saat Lebaran

Dari Kampung Satu Ke Kampung Yang Lain, Perlu di Ingat Sebagian Besar Desa Pengabean dan Losari Lor adalah Satu Saudara Nenek Moyang, Jadi Tidak Salahnya Berkunjung Ke Pelosok Desa, Ritual Tersebut Biasanya Kita Lakukan Selama 2 Hari, Cukup Melelahkan Bukan.

Saia dan Kawan-Kawan Sebaya Akhirnya telah melewati Masa Idul Fitri Yang Cukup Melelahkan dan Akhirnya Kita Memutuskan untuk Refreshing Ke Pantai Prapag Indah di Sebelah Utara Pulau Jawa. Atau Sering Di Sebut Juga Pantai Losari Indah. Akhirnya Saia dan Kawan-Kawan Semasa SD, SMP, dan SMA Berkumpul di Rumah Ooh Jam 1 Siang, Biasa Indon (Waktu Karet) Kumpul Semua Jam 3 Siang, Di Hadiri Kawan-Kawan dan Keluarga Losari (Di Baca Keponakan Saia) Rata-Rata Yang Ikut Masih Berusia 15-26 Tahunan, Jadi Cukup Muda Yah (Saia Doank Yang Tua) .

Sebelum Lebaran Tiba, Kita Biasanya Melakukan Tradisi Ziarah Kubur Ke Makan Orang Tua Yang Sudah Mendahului Kita. Tradisi ini Masih Berlangsung. Di Sebelah Kuburan Islam Dulunya Terdapat Bong-Bong (Kuburan China) Yang Besar-Besar dan Luasnya Tiga Kali Lipat dari Kuburan Islam. Karena Orang China Biasanya Menguburkan Barang Yang Berharga Sampai Liang Lahat. Setelah Tahun 1995-an Daerah Kuburan Cina itu di jadikan Perumahan Warga. Karena Memang Usia Kuburan Cina itu sudah Tua-Tua, Sejak Zaman Belanda Sudah Ada.

Hal ini Karena Orang China Lebih Tertarik untuk Prosesi Penguburan dengan Jalan Kremasi.Biasanya kremasi dilakukan oleh etnis Tionghua penganut agama Buddha, karena jenazah Buddha juga dikremasi. Namun tidak semua etnis Tionghua yang menganut agama Buddha dikremasi. Selain itu, etnis Tionghua yang tidak beragama Buddha juga ada yang dikremasi. Dengan demikian, kita boleh menyimpulkan bahwa meskipun faktor agama memainkan peranan penting dalam pemilihan kremasi, namun itu bukan satu-satunya faktor penentu.

Saat Lebaran Kami Biasanya Membagi-bagikan Kue Lebaran bahkan Ketupat Kepada Saudara Kami Yang Masih Menganut Agama Budha. Sebagai Bentuk Toleransi dan Persaudaraan Hal itu di lakukan dengan Timbal Balik Saat Upacara Masing-Masing Keagamaan Berlangsung Setiap Tahun. Misalnya Saja Imlek, Mereka Selalu Memberi Parcel dan Bahkan Tumpukan Kue Keranjang Yang Tak Pernah Habis di makan oleh Kami Sekeluarga. Sejumlah Muslim warga keturunan Tionghoa di daerah Pantura Kota Cirebon, Jawa Barat, juga merayakan tahun baru Imlek untuk menghargai tradisi leluhur mereka dengan turut membagikan angpao juga menyediakan sebagian hidangan khas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *