China Totok, China Muslim, dan Peranakan Cirebon

China Totok, China Muslim, dan Peranakan Cirebon

China Totok, China Muslim, dan Peranakan Cirebon Totok adalah istilah dari bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Jawa yang berarti “baru” atau “murni”, dan digunakan untuk mendeskripsikan para pendatang yang lahir di luar negeri serta berdarah murni. Pada masa Hindia Belanda, istilah ini dipakai untuk menunjuk orang Belanda (atau Eropa) yang lahir di luar Hindia Belanda. Kata ini juga dipakai untuk menyindir orang Eropa yang baru datang, “vers van de boot” yaitu “baru turun dari kapal”. Istilah lain, yaitu Peranakan, memiliki arti yang berkebalikan dan digunakan untuk menyebut penduduk yang telah bercampur dengan warga pribumi di Indonesia.

China Totok, China Muslim, dan Peranakan Cirebon
China Totok, China Muslim, dan Peranakan Cirebon

Istilah totok juga dipakai untuk menyebut warga Tionghoa di Indonesia yang berdarah murni (Totok Tionghoa), terutama untuk membedakannya dengan Babah atau peranakan.

Pada zaman dahulu sejak kira-kira setengah abad yang lalu masuknya seorang Tionghoa ke dalam agama Islam dipandang suatu hal yang sangat menarik perhatian dan jadi perbincangan dimana-mana. Di sebut sebagai saudara baru, meskipun dari masyarakat Tionghoa sendiri dipandang bahwa yang masuk agama Islam itu telah turun jadi “in lander” yaitu gelar yang rendah martabatnya yang selalu dialamatkan negeri sendiri. Demikian besar pengaruh perasaaan diri itu, apalagi karena sebutan sebagai mu’alaf yang diberikan kepada orang yang baru masuk Islam itu. Padahal kalimat mu’alaf tersebut dalam Al Qur’an sendiri mu’alaf adalah orang yang dirangkul hatinya dan disamakan derajatnya dengan orang Islam lainnya, tegak sama tinggi dan duduk sama rendah.

Sebenarnya orang-orang Belanda datang ke Indonesia mereka telah menjumpai adanya orang-orang Tionghoa yang beragama Islam. Pada selanjutnya istilah itu berkembang dan mengalami perubahan arti, tidak lagi bagi orang Tionghoa yang bergama Islam, tetapi orang singkeh yang baru datang dari negeri tiongkok yang sama halnya seperti lainya, sedangkan orang tinghoa yang beragama Islam disebut “peranakan” dan justru digunakan bagi orang Tionghoa yang lahir dari seorang ibu pribumi atau blasteran Tionghoa.

Pada waktu tersebut orang Tionghoa yang telah bergama Islam bertempat tinggal terpencar di kampung dan pinggiran kota. Diantara kaum Tionghoa yang berada dikampung dan pinggiran, kota ternyata adalah salah satu bagian dasar dari tujuan yang sama yaitu untuk menyiarkan agama Islam khususnya dikalangan masyarakat Tionghoa.

Pendidikan mempunyai arti yang sangat penting, untuk kemajuan kecerdasan seseorang ataupun suatu bangsa. Pemerintah kolonial dalam menjalankan politik menggunakan cara pemisahan, demikian juga dengan pemisahan sekolah Cina. Dalam bidang pendidikan pada pemerintahan kolonial, golongan Cina peranakan masuk pendidikan sekolah Cina Belanda, dan sekolah golongan Cina totok masuk ke sekolah Cina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *