Mengenal Tradisi Budaya China Peranakan Cirebon

Mengenal Tradisi Budaya China Peranakan Cirebon

China Peranakan? Masih Aneh Mendengar Istilah Tersebut. Istilah “Peranakan” paling sering digunakan di kalangan etnis Tionghoa bagi orang keturunan Tionghoa, di Singapura dan Malaysia orang keturunan Tionghoa ini dikenal sebagai Tionghoa Selat (土生華人; karena domisili mereka di Negeri-Negeri Selat), namun ada juga masyarakat Peranakan lain yang relatif kecil, seperti India Hindu Peranakan (Chetti), India Muslim Peranakan (Jawi Peranakan atau Jawi “Pekan”).

Biasanya di Cirebon Istilah China Peranakan di Kategorikan dalam China Benteng. Entah Karena itu Biasa Saia Dengar dan Alami Sebagai salah satu China Peranakan dengan di Panggil Seperti Itu.

Mengenal Tradisi Budaya China Peranakan Cirebon
Mengenal Tradisi Budaya China Peranakan Cirebon

Selanjutnya Sebagai informasi awal, kelompok cina peranakan merupakan kelompok etnis yang dalam perkembangannya sudah mengalami percampuran perkawinan, dengan orang Melayu, Eropa, Amerika atau suku bangsa non-Cina. Umumnya kaum Cina peranakan sudah tidak lagi menganut agama yang dianut nenek moyang mereka, banyak yang sudah mengikuti agama pasangannya. Namun, kaum Cina peranakan tetap kuat memegang teguh budaya leluhur mereka.Bahkan, di hari raya mereka, mereka melalukan tradisi yang hampir sama dengan orang Indonesia kebanyakan yaitu sungkeman.

Beberapa hal menarik yang menjadi catatan saya selama mendengarkan penjelasan langsung dari salah satu keturunan Cina peranakan di Kota Cirebon, Jawa Barat, yaitu :

1. Kaum Cina peranakan menganut sistem yang sama dengan suku Minang, yaitu matrilineal. Matrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu. Kata ini seringkali disamakan dengan matriarkhat atau matriarkhi, meskipun pada dasarnya artinya berbeda. Matrilineal berasal dari dua kata bahasa Latin, yaitu mater yang berarti ibu, dan linea yang berarti garis. Jadi, matrilineal berarti mengikuti garis keturunan yang ditarik dari pihak ibu.

2. Panggilan China Cirebon, Ooh (Laki-Laki) Taci (Perempuan), Jika Nama Kamu Mei-Mei maka di Panggil Taci Mei-Mei Kalo Nama Anak Laki-Laki Ong Tang Maka Biasanya di Panggil Ooh Ong.

3. Peran ibu sangat dominan dalam pendidikan anak, sehingga berdasarkan informasi yang disampaikan narasumber, anak laki-laki terkadang cenderung menjadi agak feminim karena kuat dan dominannya peran ibu. Karena Saking Dekatnya Menjadikan Laki-Laki China ini Tidak Lepas dari Keluarga

4. Anak Laki-Laki Tertua Mendapatkan Warisan Mengurus Keluarga walaupun Memiliki Rumah yang Kecil, Orang Tua di Urus oleh Oleh Keluarga, Hal Yang Sangat Baik Bukan.

5. Kaum Cina peranakan merupakan kelompok yang sangat tekun, ulet dan pekerja keras. Sehingga ketika mereka menekuni suatu bidang pekerjaan mereka akan menjadi ahli di bidang tersebut.

6. Pada kaum Cina peranakan jaman dulu, keperawanan menjadi harga mati bagi seorang wanita yang ingin menikah. Jika pada hari pernikahan diketahui si wanita sudah tidak perawan maka dia akan dikembalikan ke orang tuanya. Dan orang tua Cina peranakan sekarang berusaha tetap mempertahankan tradisi ini kepada anak perempuan mereka, walaupun mungkin anak perempuannya sudah tinggal terpisah.

7. Model kain yang digunakan oleh wanita Cina peranakan Cirebon sama dengan motif kain batik Solo, Pekalongan, bahkan ada songket Palembang dan songket Minang. Bahkan Batik Trusmi Cirebon, Memiliki Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat jelas dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.

Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia kesenirupaan Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *